Oleh: agroihutan | Agustus 11, 2008

Kopi Ateng menjadi harapan warga di D.Toba (Kompas 17o7o8)

dari file Agro

 

Kopi Ateng Menjadi Harapan Warga di Danau Toba (Kompas, 170708 )

 

KOMPAS/ANDY RIZA HIDAYAT / Kompas Images
Saur Mawati Damanik (53), warga Desa Tigaras, Kecamatan Dolok Perdamean, Kabupaten Simalungun, menjemur biji kopi yang sudah dikupas, Rabu (16/7). Kopi yang dikenal dengan kopi ateng ini membawa harapan baru. Mereka bisa menikmati hasil panen kopi itu untuk membayar utang mereka karena impitan ekonomi. Karena itu, kopi ini juga dikenal dengan kopi sigalar utang atau kopi untuk membayar utang.

Kamis, 17 Juli 2008 | 03:00 WIB

Simalungun, Kompas – Kopi lintong atau dikenal dengan kopi ateng menjadi terkenal di kawasan Danau Toba. Warga banyak berharap pada kopi ini untuk meningkatkan kesejahteraannya. Kini kopi itu mempunyai julukan baru sebagai kopi ”sigalar utang” atau kopi untuk membayar utang.

”Belakangan ini saya baru menanam kopi ateng dan hasilnya bagus. Saya sebelumnya menanam tomat dan bawang, tetapi hasilnya jelek,” tutur Saur Mawati Damanik (53), Rabu (16/7), saat ditemui di rumahnya di Desa Tigaras, Kecamatan Dolok Perdamean, Kabupaten Simalungun.

Tanaman kopi milik Saur kini sedang berbuah. Saat berbuah kini dia bisa memetik hasilnya dua minggu sekali selama tiga sampai lima bulan. Dia tidak susah mencari pasar kopinya karena pembeli datang sendiri ke rumahnya.

”Untuk satu tumbak (dua liter) biji kopi yang sudah dijemur, saya bisa jual Rp 13.000 sampai Rp 14.000,” katanya.

Saur lebih menyukai menanam kopi daripada tomat atau bawang. Tanaman bawang miliknya terkena penyakit yang membuat hasilnya sedikit. Menanam kopi, menurut dia, jauh lebih praktis daripada menanam tomat atau bawang. ”Saya hanya perlu memerhatikan pupuk dan membersihkan ilalang di sekitar tanaman,” katanya.

Saur berkeinginan menambah lahan kopinya yang kini seluas empat rante atau setara dengan 1.600 meter persegi. Warga sekitar juga banyak yang menanam kopi ateng. Selain di desanya, daerah Sipitu-pitu, Kabupaten Simalungun, dekat Desa Tigaras, juga dikenal sebagai penghasil kopi.

Hal yang sama diakui oleh Siti Damanik. Rezeki dari tanaman kopi ateng dapat dia rasakan dari orangtuanya. Orangtuanya kini lebih banyak menggantungkan hasil kopi ateng daripada tambak ikan di Danau Toba. Tambak ikan di sekitar tempatnya tidak berhasil lantaran pada 2004 dilanda virus mematikan.

”Kopi ateng ini banyak membantu ekonomi keluarga kami,” katanya. (NDY)

 


Responses

  1. Kami bawa 1kilo kopi ateng yg siap di seduh ke Rep.Ceko, dan kami bagi-bagikan ke teman-teman dan relatif (promosi kecil-kecilan), semua puas dengan rasa dan aroma kopi Ateng, terutama kita campur dengan susu kental, mantap………..

  2. Mantapff ya Lae…. wah, bisa dong Lae jadi ‘agen’ kopi Ateng di Praha, nanti Agroihutan bisa jadi ‘supplier’nya, langsung dari kebon rakyat di sekitar d. Toba… (hehehe, just joking)

  3. kopi ateng ini jenis robusta atau arabika?

  4. Horas Bah…
    Orang tuaku punya kebun kopi, jenis kopi ateng, di sekitar Tiga Balata, Kabupaten Simalungun, kebetulan sudah mau belajar panen. Bulan Mei-Juni sudah panen raya, jadi intinya, mau tanya, kalau mau jual/beli hasil kopi kemana biasanya…?
    Ada ide mau gabung sama komunitas petani kopi di sekitar SIANTAR & SIMALUNGUN…?


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: