Oleh: agroihutan | Agustus 16, 2008

Membangkitkan Wisata (Kompas 150808)

danau toba

Membangkitkan Wisata

Kompas, Jumat, 15 Agustus 2008 | 01:40 WIB

Putri itu masih tidur. Wisatawan sering menggambarkan Danau Toba dengan istilah ini. Danau yang disebut-sebut sebagai danau terbesar di Asia Tenggara ini tidur panjang.

Dalam tidurnya, geliat wisata di kawasan ini berjalan apa adanya. Masyarakat dan pelaku wisata mencari cara sendiri untuk berkembang. Cetak biru pariwisata kawasan ini tak pernah tergambar jelas. Keramaian hotel di kawasan Tuktuk, Kabupaten Samosir, lama-lama semakin sepi. Hanya beberapa turis asing yang tinggal di hotel itu.

Paket wisata tidak banyak pilihan. Wisata terbang layang yang sebelumnya ada di Merek, Kabupaten Karo, sudah lama hilang. Dampak lesunya wisata Danau Toba juga dirasakan masyarakat sekitar yang tinggal di lokasi itu. Di sejumlah tempat tujuan wisata, para penjual souvenir sampai merengek-rengek agar wisatawan mampir ke lapaknya.

Para pengusaha wisata seakan kehabisan akal mengembangkan Danau Toba. Hal yang sama dialami pemerintah daerah setempat. Kendati berusaha keras, keseriusan mereka belum totalitas. Contohnya, Pemerintah Kabupaten Samosir hanya mengalokasikan anggaran Rp 4 miliar dari Rp 321 miliar total Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD). Dana itu termasuk biaya operasional pegawai yang mencapai separuhnya. Kepala Dinas Pariwisata Samosir Melani Butarbutar mengaku tidak bisa berbuat banyak dengan anggaran sebesar itu.

Sekelompok orang Batak, salah satunya Sujono Manurung, memelopori digelarnya Pesta Danau Toba. Perhelatan 14 sampai 18 Juli itu mereka maksudkan untuk membangkitkan wisata yang lama lesu. Selama pesta, panitia menggelar aneka acara, di antaranya lomba balap perahu tradisional, menghias perahu, lukis layang-layang, pagelaran seni, festival kuliner, dan pameran wisata.

Lima hari bukanlah waktu yang cukup untuk menampilkan kekayaan budaya kawasan Danau Toba. Keindahan alam dan budaya Danau Toba terhampar di tujuh wilayah, yakni di Kabupaten Samosir, Simalungun, Toba Samosir, Humbang Hasundutan, Tapanuli Utara, Dairi, dan Karo. Dari daerah itu berkembang budaya Batak Toba dan Karo serta dan Pakpak. Danau Toba jelas tidak hanya ikon ekologi Sumatera Utara, tetapi juga ikon budaya yang tinggi nilainya.

Wisatawan asal Belanda, Elze Stolze, merespons positif acara ini. Dia yang datang bersama istri dan anaknya merasa terhibur. Elze mengaku tahu tentang Danau Toba setelah melihat brosur tempat tujuan wisata di Indonesia. ”Agenda acara ini positif. Saya mengharapkan lebih sering digelar,” kata Stolze.

Dalam sejarahnya, pesta seperti ini tidak pernah digelar sejak tahun 1997 karena alasan krisis dana. Namun, benarkah pariwisata Danau Toba lesu lantaran terhentinya pesta Danau Toba? Pemerhati budaya Batak, Thompson Hs, membantah. Kemajuan pariwisata, tuturnya, akan terwujud jika ada kerja sama yang padu antara pemerintah dan warga di kawasan ini, tidak harus melalui sebuah pagelaran seperti Pesta Danau Toba. (Andy Riza Hidayat)


Responses

  1. Hanya sekedar sharing, beberapa bulan lalu saya bawa mertua saya ke danau Toba (orang Ceko), ketika kita memandang danau Toba dari ketinggian, dia bilang ” heran saya ngak pernah tahu kalau tempat ini begitu indah, kenapa ngak di promosikan seperti Bali ??? ” satu bukti tambahan bahwa banyak orang di “luar” sana yg belum mengenal Danau Toba.

    Horas.

  2. Itulah problimnya Lae… disatu pihak kita tahu Tao Toba itu suatu daya tarik luarbiasa bagi orang luar negeri, tapi di pihak lain kita belum bisa membuat danau Toba “layak jual” sebagai tujuan wisata….


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: