Oleh: agroihutan | Agustus 25, 2008

LAGI TENTANG ‘P4S’

LAGI TENTANG P4S

(dikutip dari website Balai Besar Pelatihan Pertanian (BBPP) Batangkaluku, Sulawesi Selatan)
Pusat Pelatihan Pertanian Pedesaan Swadaya (P4S) sebagai salah satu wadah pemberdayaan petani di pedesaan melalui pelatihan secara swadaya, mempunyai peran yang sangat srategis dalam upaya mempercepat arus (akselerasi) informasi dan penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi kepada petani.  

P4S yang lahir, tumbuh dan berkembang dari , oleh dan untuk petani, tentunya tidak disangsikan lagi keberadaannya, mengingat lembaga pelatihan swadaya ini, memang berada di tengah-tengah usahatani, dikelola oleh petani dan fasilitatornya pun dari petani, sehingga petani yang mengikuti proses belajar mengajar di P4S tidak merasa risih, canggung dan malu-malu untuk berinteraksi, berdiskusi dan tukar menukar pengalaman antar sesama petani peserta dan fasilitator yang juga petani. Bahasa yang digunakan pun biasanya disesuaikan kemampuan nalar dan kondisi petani (bahasa petani) yang memungkinkan dapat diterima dan diserap oleh petani dengan mudah.

Berbeda dengan lembaga pelatihan formal seperti Pusat / Balai Diklat / Pelatihan milik pemerintah atau swasta, yang melakukan proses pembelajaran dengan pola yang baku sesuai dengan topik / jenis pelatihannya dan terkadang agak ketat karena sudah menggunakan standar-standar tertentu. Di P4S kondisi seperti ini, biasanya dilakukan secara sederhana, tetapi tetap memegang teguh mekanisme pembelajaran yang terstruktur melalui pendekatan “magang” yaitu melakukan langsung sambil belajar, atau “sekolah lapang” yaitu melakukan proses pembelajaran langsung di lapangan dengan prinsip kerja melihat, memahami, mengerjakan, mengevaluasi dan menerapkan sendiri, yang dibimbing dan didampingi langsung oleh pemandu lapangan yang juga berasal dari petani.

 

 

 

P4S sebagai sentra akselerasi IPTEK, disamping berperan dalam proses pembelajaran melalui pola pelatihan, kursus, magang dan sekolah lapang, juga dapat berperan sebagai klinik informasi dan teknologi , bagi lembaga-lembaga pengkajian / penelitian, sekaligus dapat berperan dalam memberi umpan balik informasi dan teknologi karena sumberdaya lahan yang tersedia di P4S dapat dimanfaatkan sebagai tempat peragaan / demonstrasi, uji coba, kaji terap dan kaji widya terhadap berbagai teknologi, sosial dan ekonomi yang berkaitan dengan pemberdayaan patani dan usaha pertanian lainnya.

Berdasarkan pengalaman dalam beberapa tahun terakhir ini, banyak P4S yang telah mengembangkan teknologi tepat guna dan menemukan teknologi kearifan lokal (Indegenious Technology) yang bisa diaplikasikan langsung oleh petani sekitarnya dengan biaya yang dapat terjangkau oleh petani. Contoh yang sangat sederhana adalah P4S yang dikelola oleh alumni magang Jepang (Sdr. Ishak) di Cibodas, Lembang, Jawa Barat, yang telah mengembangkan budidaya tomat dengan sistem hidroponik yang hampir semua sarana dan peralatannya dirakit dan dibuat sendiri secara sederhana, tetapi produk atau tomatnya mempunyai daya saing yang cukup baik di pasaran terutama di pasar-pasar swalayan / hypermarket.

Contoh lain P4S Asamayama, yang dikelola oleh Sdr. Baidarus (alumni magang Jepang) yang mengusahakan usahatani terpadu antara usaha ternak ayam petelur dan tanaman hortikultura (sayuran). Dengan usahatani model ramah lingkungan , pakan ternak diproduksi sendiri, sehingga limbah pakan dan limbah ternak serta limbah tanaman didaur ulang untuk menjadi pupuk organik guna memenuhi kebutuhan nutrisi tanah bagi lahan pertanian hortikultura dan tanaman pangan lainnya. P4S Ramah Lingkungan yang dikelola oleh Sdr. Aksan (alumni magang Jepang) juga melakukan hal yang sama, dengan fokus usahanya penggemukan sapi yang dipadukan dengan hijauan ternak dan pengembangan kacang-kacangan serta pengembangan biogas dari kotoran ternak sapi.

Keberadaan P4S-P4S dewasa ini terutama di Sulawesi Selatan, selain berperan dalam mempercepat arus IPTEK kepada petani , juga sangat bermanfaat dalam usaha pemberdayaan petani. P4S dengan setumpuk pengalaman dalam pengembangan teknologi usahatani, mempunyai peran yang strategis dalam peningkatan kemampuan dan kemandirian kelembagaan tani (kelompok tani dan gabungan kelompok tani) terutama dalam mempercepat penguatan kelembagaan petani melalui pelatihan-pelatihan pengembangan kepemimpinan dan teknologi pertanian. Dengan berlatih – melatih di P4S para petani / kelompok tani dapat belajar dan mempraktekkan secara langsung sesuai kondisi nyata di lapangan.

Meskipun keberadaan P4S ini sudah diakui peran dan manfaatnya, namun berbagai kendala yang dihadapi dalam pengembangan ke depan. Salah satu kendala yang dihadapi saat ini, adalah belum tersosialisasinya keberadaan P4S di daerah, yang berdampak terhadap pemahaman, persepsi dan penerimaan dari instansi lingkup pertanian yang terkait belum semuanya sama, sehingga pembinaan dan pendampingan di lapangan belum sepenuhnya dapat dilakukan sesuai tugas dan fungsinya dalam upaya pemberdayaan petani di pedesaan.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: