Oleh: agroihutan | September 11, 2008

MUSIK GONDANG MEMERLUKAN PERHATIAN

Musik Gondang Memerlukan Perhatian

(dikutip dari ‘Musik Batak’, http://www.batakmusic.com/ – 22 Juni 2008)

[Special Article]   Jika diibaratkan sebagai manusia, Viky Sianipar melihat musik gondang saat ini tengah bernegosiasi dengan malaikat maut di ruang ICU rumah sakit. Tubuhnya terbaring lemah, hidupnya bergantung dengan alat-alat. Musik gondang sekarat. Perlu perhatian serius!

Seperti nasib budaya tradisional lainnya, eksistensi musik gondang saat ini berada di ujung tanduk. Tak banyak yang perduli, bahkan orang Batak sendiri. “Orang batak sendiri sekarang nggak terlalu peduli dengan budayanya,” kata Pengajar Etnomusikologi IKJ Tarsan Simamora kepada Jurnal Nasional, Jumat (25/4).

Menengok ke belakang hampir punahnya musik gondang tak terlepas dari propaganda penjajah untuk memecah orang Batak. Musik gondang digunakan dalam upacara agama untuk menyampaikan doa manusia ke dunia atas. Ketika musik dimainkan, pemain sarune dan pemain taganing dianggap sebagai menifestasi Batara Guru. “Musik gondang dipergunakan untuk berkomunikasi dengan dunia atas dan rupanya tranformasi pemain musik ini terjadi untuk memudahkan hubungan dengan dunia atas,” tutur Viky.

Kemudian, lanjut dia, masuknya agama Kristen ke Tanah Batak mengubah kebudayaan masyarakat di sana. Bahkan gereja menganggap musik gondang yang identik dengan pemujaan roh nenek moyang sebagai bentuk penyembahan terhadap berhala.

Pada awal abad ke-20 Nommensen minta pemerintah kolonial Belanda untuk melarang upacara bius dan musik gondang. Larangan ini bertahan hampir empat puluh tahun sampai pada tahun 1938. “Itu merupakan pukulan telak bagi perkembangan musik gondang,” ujar Viky.

Viky juga mencoba menelaah kondisi sosial ekonomi masyarakat Batak saat itu, yang hidup dibalut kemiskinan. Jadi boro-boro memikirkan kebudayaan, kata Viky, mereka sudah terlalu sibuk memikirkan keluarganya mau makan apa.

Kondisi tersebut semakin diperparah dengan keadaan kaum muda yang tergilas oleh gelombang budaya Barat yang masuk ke Indonesia. Para generasi MTV ini lebih bangga mempelajari musik dari luar negeri. Musik tradisional seperti gondang ditingal karena dianggap kampungan. “Mereka berusaha meniru Amerika, padahal di Amerika mereka juga tidak dianggap,” kata pemilik Viky Sianipar Music Center tersebut.

Jarangnya musik gondang dipakai dalam upacara-upacara adat Batak, seperti penikahan juga menjadi fakta yang membuktikan minimnya kepedulian masyarakat terhadap kelestarian musik gondang. “Mereka malah lebh sering memakai organ tunggal, hanya satu dua yang menggunakan musik gondang,” tukas Jeffar Lumban Gaol.

Musik tradisional yang seharusnya diletakkan sebagai aset berharga, malah dibiarkan menguap begitu saja. Sehingga bukan suatu hal yang mustahil bila kemudian keberadaan musik gondang menguap tergerus zaman. “Padahal di world music, gondang memiliki lapak yang spesial,” ungkap Jeffar.

Keunikan musik pentatonik

Ditinjau dari kacamata etnomusikologi, gondang merupakan salah satu jenis musik tradisi Batak Toba. Namun gondang juga dapat diterjemahkan sebagai komposisi yang ditemukan dalam jenis musik tersebut. Ada dua ensembel musik gondang, yaitu Gondang Sabangunan yang biasanya dimainkan di luar rumah, di halaman rumah, dan Gondang Hasapi yang biasanya dimainkan dalam rumah.

Gondang Sabangunan terdiri dari sarune bolon (sejenis alat tiup-”obo”), taganing (perlengkapan terdiri dari lima kendang yang dikunci punya peran melodis dengan sarune), gondang (sebuah kendang besar yang menonjolkan irama ritme), empat gong yang disebut ogung dan hesek sebuah alat perkusi (biasanya sebuah botol yang dipukul dengan batang kayu atau logam) yang membantu irama.

Sarune Bolon adalah alat tiup double reed (obo) yang mirip alat-alat lain yang bisa ditemukan di Jawa, India, China. Pemain sarune mempergunakan teknik yang disebut marsiulak hosa (mengembalikan napas terus-menerus) dan biarkan pemain untuk memainkan frase-frase yang panjang sekali tanpa henti untuk menarik napas.

Menurut Viky, keunikan musik gondang terletak pada tangga nadanya. Ia menjelaskan, tangga nada pada musik gondang dikunci dalam cara yang hampir sama dengan tangga nada diatonis mayor yang ditemukan di musik Barat. “Sejauh yang saya tahu, tidak bisa ditemukan di tempat lain di dunia ini,” ujar Viky.

Seperti musik gamelan yang ditemukan di Jawa dan Bali, sistem tangga nada yang dipakai dalam musik gondang punya variasi di antara setiap ensembel, variasi ini bergantung pada estetis pemain sarune dan pemain taganing. Kemudian ada cukup banyak variasi di antara kelompok dan daerah yang menambah diversitas kewarisan kebudayaan ini yang sangat berharga.

Ogung terdiri dari empat gong yang masing-masing punya peran dalam struktur irama. Pola irama gondang disebut doal, dan dalam konsepsinya mirip siklus gong yang ditemukan di musik gamelan dari Jawa dan Bali, tetapi irama siklus doal lebih singkat.

Sebagian besar repertoar Gondang Sabangunan juga dimainkan dalam konteks ensembel Gondang Hasapi. Ensembel ini terdiri dari hasapi ende (sejenis gitar kecil yang punya dua tali yang main melodi), hasapi doal (sejenis gitar kecil yang punya dua tali yang main pola irama), garantung (sejenis gambang kecil yang main melodi ambil peran taganing dalam ensembel Gondang Hasapi), sulim (sejenis suling terbuat dari bambu yang punya selaput kertas yang bergetar, seperti sulim dze dari China), sarune etek (sejenis klarinet yang ambil peran sarune bolon dalam ensembel ini), dan hesek (sejenis alat perkusi yang menguatkan irama, biasanya alat ini ada botol yang dipukul dengan sebuah sendok atau pisau).

Tangga nada yang dipakai dalam musik gondang hasapi hampir sama dengan yang dipakai dalam Gondang Sabangunan, tetapi lebih seperti tangga nada diatonis mayor yang dipakai di Barat. Ini karena pengaruh musik gereja Kristen.

Sayangnya kekayaan musik gondang kurang mendapatkan perhatian. Beberapa musisi menyambung napas musik gondang yang tengah tersengal antara mati dan hidup dengan mengadakan acara Gondang Naposo. “Mirisnya acara tersebut diadakan oleh Dewan Kesenian Jakarta,” kata Jeffar.

Ada banyak jalan yang dapat ditempuh untuk menyelamatkan musik tradisional seperti gondang, di antaranya dengan mengadakan pertunjukkan yang dikemas secara modern. “Media berperan besar dalam menciptakan tren,” ujar Viky.

Senada dengan Viky, Jeffar juga menyarankan agar musisi lebih sering melakukan pertunjukkan musik tradisional. Selain itu, ia juga menghimbau agar para musisi populer menyelipkan satu dua lagu dalam albumnya, untuk mempengaruhi anak muda. “Mereka punya pengaruh yang sangat besar,” tuturnya. (Grathia Pitalok)

 


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: