Rural Training Center resize 

Rural Sustainable Agro Training Center,
North Sumatra Indonesia

  A space of 15 hectare (150.000 m2) as a first step and challenge; in this case specific for Highland Agro Business as well to establish an Agro Education & Research Center. Later on we could expand up until 25 or 50 or 75 hectare, also doing sustainable cattle breeding and fish farming & industry; or expand from Highland to Midland to Lowland of Sumatra.  

I foresee in the near future Sumatra will become an important supplier in sustainable agro, cattle and fish farming & industry. Sumatra has many opportunities to offer in environmental, sustainable development, also because of its diversity in landscape and environment: highland, midland and lowland. A prominent seat as sustainable supplier will be given to Sumatra. Not only in Indonesia, but at least for Asia and Australia too. In year of 2002 (11th March 2002) I started to experiment with growing a diversity of (highland) vegetables in cooperation with agro students of the regency of North Tapanuli. Not too big, just one hectare to learn about the potentials. Without experience, little know how and few facilities I dare to say the potentials are enormous; the potentials of the students and the land itself for development of highland agro business, farming & industry, research & education. As former ambassador in Europe, I have been traveling a lot in European countries and other continents as well . The same agro growth of vegetables, flowers and fruits over there is also to be found in the highland of Sumatra. We can use their knowledge, learn and become join partners.

Leonard Tobing

Note: untuk melihat foto/slides ‘powerpoint’ silahkan di-klik tulisan ‘Rural Training Center resize’ diatas (warna merah)

Oleh: agroihutan | April 16, 2009

TAMBAHAN FOTO

pak-janto-marsito1belajar-ngetraktor1ruang-kelas-baru1

1. Pak Janto Marsito, pelatih andalan…

2. Tambahan ruang kelas baru

3. Belajar traktor-tangan…

Oleh: agroihutan | Januari 9, 2009

SISWA SMK BIKIN SENDIRI KANDANG BEBEK

SISWA SMK PAGARAN BIKIN SENDIRI KANDANG BEBEK

 

Siswa-siswa SMK Pagaran jurusan Peternakan yang sedang mengikuti pelatihan di P4S Agroihutan, ditugaskan untuk membangun sendiri kandang bebek dari bahan-bahan yang harus dicari dan dirakit sendiri.

Maka mereka pun dengan rajin mencari dari hutan-hutan  disekitar ranting-ranting kayu, ilalang, daun kelapa dll, dan dengan petunjuk-prtunjuk instruktur mereka berhasil membangun 2 buah kandang bebek berukuran masing-masing 4 x 10 m2. Satu kandang bisa menampung +/- 200 bebek.

Maksud P4S memperkenalkan pembudidayaan bebek adalah karena bebek lebih kuat terhadap penyakit, dan jenis yang ini sekarang tidak begitu memerlukan air. Produksi telur diutamakan dan dagingnya pun dapat dimakan. Yang paling utama, siswa-siswa dapat memperbaiki gizi dan tentunya sisanya dapat dijual untuk menambah penghasilan mereka.  Dibawah ini foto-foto mereka di lapangan :

 

mencari bahan-bahan di hutan

mencari bahan-bahan di hutan

 

 

mempersiapkan bahan-bahan

mempersiapkan bahan-bahan

memasang tiang-tiang

memasang tiang-tiang

memasang rangka atap
memasang rangka atap
dscf07691-bebek-51

dan selesai deh kandangku……

Oleh: agroihutan | Desember 10, 2008

PARA PENDETA HKBP JUGA PERNAH IKUT PELATIHAN….

PENDETA HKBP JUGA IKUT PELATIHAN PERTANIAN

Pusat kegiatan pelatihan dan praktek pertanian AgroIhutan di Pagarbatu, Sipoholon, tidak hanya dimanfaatkan oleh siswa-siswa SMK (Sekolah Menengah Kejuruan) di Tapanuli Utara(SMK Siborong-borong, SMK Pagaran, SMK Losida, Siatas Barita, SMK Pahae Julu, SMK Pangaribuan), tetapi juga para PPL (Peserta Pelatihan) dari PPL Tapanuli Utara, PPL Humbang Hasundutan, Kelompok Tani Tapanuli Utara dan Kelompok Pendeta dan Penatua HKBP Sumatra Utara.

Dibawah ini adalah foto kenang-kenangan sewaktu pendeta/penatua HKBP turut mengikuti pelatihan di ‘P4S AgroIhutan’, Pagarbatu

tak lupa bawa laptop

tak lupa bawa laptop

serius mendengarkan....

serius mendengarkan....

Oleh: agroihutan | November 7, 2008

RATU OPERA BATAK JUALAN KACANG

ratu-opera1
Zulkaidah Harahap
19/10/2008 13:47 – Sosok
Sang Ratu Opera Batak Kini Jualan Kacang

Liputan6.com, Siantar: Tak banyak orang yang rela mempertaruhkan hidupnya dalam bidang seni dan berjaya sebagai duta bangsa. Pasalnya, kerap beredar rumor profesi seniman tak bisa dijadikan sandaran hidup seseorang secara finansial. Hal itulah yang dialami Zulkaidah Harahap, sang ratu Opera Batak di era 70an.

Opera Batak asuhan Tilhang Gultom bisa dibilang tak jauh berbeda dengan opera keliling di Tanah Batak. Namun, grup tersebut akhirnya tak mampu bertahan di tengah kerasnya persaingan dunia hiburan. Terlebih, masyarakat kini lebih meminati sandiwara televisi maupun film layar lebar.

Perlahan tapi pasti, keberadaan Opera Batak kian terpuruk. Bahkan untuk menyambung hidup, Zulkaidah rela berjualan kacang di atas kapal ferry yang menuju Danau Toba. Tak hanya itu, ia juga berjualan tuak atau minuman keras khas Batak pada perhelatan adat.

Kendati demikian, jiwa seni yang mengalir di darah Zulkaidah tak lantas hilang. Dalam sebuah perhelatan adat, ia menjual tuak sambil meniupkan seruling dan bernyanyi. Tak disangka, pertunjukan Zulkaidah memukau seluruh tamu dalam pesta, tak terkecuali seorang dosen Etnomusikologi Universitas Sumatra Utara, Rizaldi Siagian.

Sang dosen yang kagum lalu mengajak perempuan itu ikut dalam rombongan misi kesenian Indonesia. Zulkaidah pun bertolak ke tujuh negara bagian di Amerika. Setelah itu, ia kembali berjualan tuak di tenda biru di Jalan Tiga Dolok Siantar.

Kini, Zulkaidah sedikit berlega hati. Pasalnya, ia menerima penghargaan atas jasanya sebagai seniman yang pernah mengharumkan nama bangsa. Melalui Program Penghargaan Sang Maestro, Zulkaidah mendapat tunjangan sebesar Rp 1 juta per bulan. Tapi, dengan syarat ia harus membina bibit seniman muda. Ia berharap keputusan itu tak hanya berjalan di tahun ini saja.(IKA/Tim Liputan 6 SCTV)

Oleh: agroihutan | Oktober 24, 2008

DOSEN-DOSEN CEKO DI PAGARBATU

DOSEN-DOSEN CEKO DI PAGARBATU

 

Sebagai realisasi kerjasama antar-Universitas, beberapa dosen Ceko  dari Fakultas Pertanian CZU (Praha, Rep. Ceko) datang ke Tapanuli untuk program pertukaran dosen dengan Universitas Sisingamangaradja XII, selain itu mereka juga ikut menyumbangkan pikirannya dalam rangka program pendidikan pertanian di P4S AgroIhutan. Mereka sangat menikmati suasana dan alam pegunungan di Sipoholon. Dua diantaranya adalah DR. David Herak dan DR. Jindrich Karansky (lihat foto-foto terlampir).

dosen Ceko di Pagarbatu

dosen Ceko di Pagarbatu

 

 

 

 

 

orang Ceko bisa juga makan pakai tangan...

orang Ceko bisa juga makan pakai tangan...

Oleh: agroihutan | Oktober 10, 2008

KOPI CHERRY DIPASARKAN KE NEW ZEALAND

Kopi Cherry Asal Simalungun Dipasarkan ke New Zeland

Posted in Marsipature Hutanabe by Redaksi on Oktober 9th, 2008

Simalungun (SIB)
Dirut PD Agromadear Ir IGK Sastrawan MBA, Senin ( 7/ 10 ) menyebutkan beberapa komoditi produksi pertanian asal Kabupaten Simalungun mempunyai peluang ekspor di antaranya kopi cherry telah dipasarkan ke New Zeland.
Ekspor kopi cherry dalam bentuk bubuk menggunakan label PD Agromadear ke New Zeland diakui masih relatif kecil namun ia yakin dalam kurun waktu beberapa tahun ke depan akan terjadi peningkatan volume ekspor.
Pembatasan pengiriman barang terjadi karena konsumen menentukan standar permintaan meliputi kualitas, kuantitas dan kontiniutas.
Untuk memenuhi standar kualitas, petugas PD Agromadear bekerja ekstra keras mensosialisasikan proses pembuatan bubuk kopi cherry.
Petani perlu memahami cara memanen, buah yang dipetik harus benar – benar matang berwarna merah. Dan, mulai masa panen sampai dengan produksi tidak lebih dari 15 hari. Alasannya, penumpukan biji kopi melampaui batas 15 hari dapat mengurangi cita rasa bubuk kopi.
Selama perawatan tanaman, petani diharapkan tidak menggunakan bahan pestisida maupun insektisida berlebihan sehingga meninggalkan residu pada biji kopi.
Sedangkan pengiriman jenis komoditi jahe, kentang dan tomat hanya tinggal menunggu kesiapan barang. “ Malaysia dan Singapura telah menyampaikan permintaan. Namun, untuk mempersiapkan berbagai jenis komoditi yang memenuhi standar pasar, bebas residu kimia butuh waktu,” katanya.
Sistim pengepakan juga sangat menentukan, misalnya, pengiriman kentang yang diminta hendaknya rata – rata 10 kg/ paket.
DUKUNGAN LINTAS SEKTORAL
Menurut Sastrawan, upaya pembangunan ekonomi rakyat melalui usaha agribisnis butuh dukungan lintas sektoral di dalamnya termasuk dukungan politis dari dewan dan penyediaan bantuan modal kerja oleh pemerintah.
Para pelaku dagang agribisnis yang tergabung di dalam IMTG (Indonesia , Malaysia , Thailand Growth) sedang melirik potensi alam Indonesia khususnya Sumut yang menghasilkan berbagai jenis komoditi pertanian.
Walaupun bukan tujuan utama tetapi peluang pasar ekspor itu harus dimanfaatkan dan harus dimulai sejak dini. Namun, untuk mensukseskan usaha dagang dengan pihak luar negeri diperlukan dukungan dari berbagai pihak di dalamnya dari DPRD memberikan dukungan politis. (S4/g)

Oleh: agroihutan | September 18, 2008

PERTEMUAN DI P4S AGROIHUTAN

Pertemuan di P4S AgroIhutan

Pada hari Senin, 15 September 2008, telah diadakan pertemuan antara Bupati Tapanuli Utara Torang Lumbantobing didampingi Kadis Pendidikan, Kadis Pertanian, Kabag Penyuluhan bersama seluruh jajarannya dengan siswa-siswa  SMK-Pertanian Siborongborong, SMK-Pertanian Pagaran, SMK-Pertanian Losida Siatas Barita, SMK-Pertanian Pahae Julu dan SMK-Pertanian Pangaribuan. Selain siswa-siswa juga hadir orangtua-orangtua siswa. Total semua sekitar 300 orang. Maksud pertemuan ini adalah agar para siswa mengetahui tantangan yang akan dihadapi dalam tahun mendatang dan untuk itu orang tuapun perlu mengetahui hal tersebut karena 80% para orang tua itu adalah petani.

Seperti diketahui, Pemda Taput memberi subsidi kepada para siswa berupa tunjangan dana untuk konsumsi dan pupuk selama praktek (3 bulan). Saat ini yang berlatih berjumlah 100 siswa dari Siborongborong, Pahae Julu dan Pangaribuan, sedangkan mulai 20 Oktober nanti akan masuk siswa baru sebanyak 117 orang (dari Pagaran dan Losida) diantaranya 41 orang jurusan peternakan dari SMK-Pertanian Pagaran, selebihnya jurusan budi daya.
Dalam pertemuan tersebut Bupati Tapanuli Utara menyampaikan bahwa walaupun Pemda Taput telah memberi subsidi dalam kegiatan “Praktek Kerja Lapangan” itu tidak cukup dan meminta para orang tua siswa memberi perhatian lebih besar dalam pendidikan para putra putri mereka terutama dalam hal perilaku. Ini telah dilaksanakan sejak tahun 2005.

Selain bantuan kepada para siswa, Pemda Tapanuli Utara dibawah pimpinan Bapak Torang Lumbantobing juga memberi subsidi kepada para petani berupa bantuan pembukaan lahan dengan biaya hanya Rp. 750.000 per hektar untuk 3 kali traktor (kalau sewa traktor maka biaya yang dibutuhkan Rp. 3 juta).

Dalam rencana pembangunan Pemda Tapanuli Utara, pertanian merupakan salah satu dari tiga pilar pembangunan disamping pendidikan dan kesehatan.

Dalam pertemuan tersebut siswa yang sedang berlatih juga telah memperlihatkan berbagai produk-produk buatan mereka terlebih berbagai pupuk organik baik padat maupun cair disamping biopestisida dan fungisida organik.

Demikian laporan kegiatan pertemuan Bupati Tapanuli Utara bersama seluruh jajarannya dengan siswa SMK-Pertanian se Tapanuli Utara + orang tua siswa.

Leo. T

Para orangtua siswa dan siswa2

Para orangtua siswa dan siswa2

Bupati dengan jajarannya

Bupati dengan jajarannya

 

siswa dengan produk pupuknya

siswa dengan produk pupuknya

Oleh: agroihutan | September 11, 2008

MUSIK GONDANG MEMERLUKAN PERHATIAN

Musik Gondang Memerlukan Perhatian

(dikutip dari ‘Musik Batak’, http://www.batakmusic.com/ – 22 Juni 2008)

[Special Article]   Jika diibaratkan sebagai manusia, Viky Sianipar melihat musik gondang saat ini tengah bernegosiasi dengan malaikat maut di ruang ICU rumah sakit. Tubuhnya terbaring lemah, hidupnya bergantung dengan alat-alat. Musik gondang sekarat. Perlu perhatian serius!

Seperti nasib budaya tradisional lainnya, eksistensi musik gondang saat ini berada di ujung tanduk. Tak banyak yang perduli, bahkan orang Batak sendiri. “Orang batak sendiri sekarang nggak terlalu peduli dengan budayanya,” kata Pengajar Etnomusikologi IKJ Tarsan Simamora kepada Jurnal Nasional, Jumat (25/4).

Menengok ke belakang hampir punahnya musik gondang tak terlepas dari propaganda penjajah untuk memecah orang Batak. Musik gondang digunakan dalam upacara agama untuk menyampaikan doa manusia ke dunia atas. Ketika musik dimainkan, pemain sarune dan pemain taganing dianggap sebagai menifestasi Batara Guru. “Musik gondang dipergunakan untuk berkomunikasi dengan dunia atas dan rupanya tranformasi pemain musik ini terjadi untuk memudahkan hubungan dengan dunia atas,” tutur Viky.

Kemudian, lanjut dia, masuknya agama Kristen ke Tanah Batak mengubah kebudayaan masyarakat di sana. Bahkan gereja menganggap musik gondang yang identik dengan pemujaan roh nenek moyang sebagai bentuk penyembahan terhadap berhala.

Pada awal abad ke-20 Nommensen minta pemerintah kolonial Belanda untuk melarang upacara bius dan musik gondang. Larangan ini bertahan hampir empat puluh tahun sampai pada tahun 1938. “Itu merupakan pukulan telak bagi perkembangan musik gondang,” ujar Viky.

Viky juga mencoba menelaah kondisi sosial ekonomi masyarakat Batak saat itu, yang hidup dibalut kemiskinan. Jadi boro-boro memikirkan kebudayaan, kata Viky, mereka sudah terlalu sibuk memikirkan keluarganya mau makan apa.

Kondisi tersebut semakin diperparah dengan keadaan kaum muda yang tergilas oleh gelombang budaya Barat yang masuk ke Indonesia. Para generasi MTV ini lebih bangga mempelajari musik dari luar negeri. Musik tradisional seperti gondang ditingal karena dianggap kampungan. “Mereka berusaha meniru Amerika, padahal di Amerika mereka juga tidak dianggap,” kata pemilik Viky Sianipar Music Center tersebut.

Jarangnya musik gondang dipakai dalam upacara-upacara adat Batak, seperti penikahan juga menjadi fakta yang membuktikan minimnya kepedulian masyarakat terhadap kelestarian musik gondang. “Mereka malah lebh sering memakai organ tunggal, hanya satu dua yang menggunakan musik gondang,” tukas Jeffar Lumban Gaol.

Musik tradisional yang seharusnya diletakkan sebagai aset berharga, malah dibiarkan menguap begitu saja. Sehingga bukan suatu hal yang mustahil bila kemudian keberadaan musik gondang menguap tergerus zaman. “Padahal di world music, gondang memiliki lapak yang spesial,” ungkap Jeffar.

Keunikan musik pentatonik

Ditinjau dari kacamata etnomusikologi, gondang merupakan salah satu jenis musik tradisi Batak Toba. Namun gondang juga dapat diterjemahkan sebagai komposisi yang ditemukan dalam jenis musik tersebut. Ada dua ensembel musik gondang, yaitu Gondang Sabangunan yang biasanya dimainkan di luar rumah, di halaman rumah, dan Gondang Hasapi yang biasanya dimainkan dalam rumah.

Gondang Sabangunan terdiri dari sarune bolon (sejenis alat tiup-”obo”), taganing (perlengkapan terdiri dari lima kendang yang dikunci punya peran melodis dengan sarune), gondang (sebuah kendang besar yang menonjolkan irama ritme), empat gong yang disebut ogung dan hesek sebuah alat perkusi (biasanya sebuah botol yang dipukul dengan batang kayu atau logam) yang membantu irama.

Sarune Bolon adalah alat tiup double reed (obo) yang mirip alat-alat lain yang bisa ditemukan di Jawa, India, China. Pemain sarune mempergunakan teknik yang disebut marsiulak hosa (mengembalikan napas terus-menerus) dan biarkan pemain untuk memainkan frase-frase yang panjang sekali tanpa henti untuk menarik napas.

Menurut Viky, keunikan musik gondang terletak pada tangga nadanya. Ia menjelaskan, tangga nada pada musik gondang dikunci dalam cara yang hampir sama dengan tangga nada diatonis mayor yang ditemukan di musik Barat. “Sejauh yang saya tahu, tidak bisa ditemukan di tempat lain di dunia ini,” ujar Viky.

Seperti musik gamelan yang ditemukan di Jawa dan Bali, sistem tangga nada yang dipakai dalam musik gondang punya variasi di antara setiap ensembel, variasi ini bergantung pada estetis pemain sarune dan pemain taganing. Kemudian ada cukup banyak variasi di antara kelompok dan daerah yang menambah diversitas kewarisan kebudayaan ini yang sangat berharga.

Ogung terdiri dari empat gong yang masing-masing punya peran dalam struktur irama. Pola irama gondang disebut doal, dan dalam konsepsinya mirip siklus gong yang ditemukan di musik gamelan dari Jawa dan Bali, tetapi irama siklus doal lebih singkat.

Sebagian besar repertoar Gondang Sabangunan juga dimainkan dalam konteks ensembel Gondang Hasapi. Ensembel ini terdiri dari hasapi ende (sejenis gitar kecil yang punya dua tali yang main melodi), hasapi doal (sejenis gitar kecil yang punya dua tali yang main pola irama), garantung (sejenis gambang kecil yang main melodi ambil peran taganing dalam ensembel Gondang Hasapi), sulim (sejenis suling terbuat dari bambu yang punya selaput kertas yang bergetar, seperti sulim dze dari China), sarune etek (sejenis klarinet yang ambil peran sarune bolon dalam ensembel ini), dan hesek (sejenis alat perkusi yang menguatkan irama, biasanya alat ini ada botol yang dipukul dengan sebuah sendok atau pisau).

Tangga nada yang dipakai dalam musik gondang hasapi hampir sama dengan yang dipakai dalam Gondang Sabangunan, tetapi lebih seperti tangga nada diatonis mayor yang dipakai di Barat. Ini karena pengaruh musik gereja Kristen.

Sayangnya kekayaan musik gondang kurang mendapatkan perhatian. Beberapa musisi menyambung napas musik gondang yang tengah tersengal antara mati dan hidup dengan mengadakan acara Gondang Naposo. “Mirisnya acara tersebut diadakan oleh Dewan Kesenian Jakarta,” kata Jeffar.

Ada banyak jalan yang dapat ditempuh untuk menyelamatkan musik tradisional seperti gondang, di antaranya dengan mengadakan pertunjukkan yang dikemas secara modern. “Media berperan besar dalam menciptakan tren,” ujar Viky.

Senada dengan Viky, Jeffar juga menyarankan agar musisi lebih sering melakukan pertunjukkan musik tradisional. Selain itu, ia juga menghimbau agar para musisi populer menyelipkan satu dua lagu dalam albumnya, untuk mempengaruhi anak muda. “Mereka punya pengaruh yang sangat besar,” tuturnya. (Grathia Pitalok)

 

Oleh: agroihutan | September 3, 2008

TENTANG BETERNAK BABI….

Tentang Beternak Babi….

Prof.Dr. Sihombing, ahli peternakan babi dari IPB Bogor, pernah juga mampir memberikan ‘kuliah lapangan’ di Pagarbatu, khususnya tentang bagaimana cara beternak babi secara sederhana. Tampak dalam gambar, prof. tsb. sedang memberikan penjelasan kepada Bupati Tapanuli Utara beserta tamu-tamu lainnya.

Bupati Taput meninjau Agroihutan

Bupati Taput meninjau Agroihutan

                Masih mungil-mungil, tapi gedenya bisa jadi duit….

Older Posts »

Kategori